judulnya bukan salah ketik. post ini benar-benar berhubungan dengan kegilaan remaja dengan para aktor Asia yang sampai sekarang tidak ada habisnya. ini juga tidak ada hubungannya dengan bulan Pebruari yang katanya penuh cinta. hanya saja, tweet @perempuansore tersebut benar-benar membuat tertohok. mengapa saat patah hati seseorang bisa menulis lebih banyak dibandingkan dengan saat jatuh cinta? karena butuh katarsis untuk meredakan emosi negatif yang mengganggu itu.
saya sedang tidak jatuh cinta, dan sedang tidak patah hati. haha. saya bohong. kenyataannya, saya hampir setiap hari jatuh cinta, dan saya jatuh cinta pada objek yang seringkalinya tidak nyata, para aktor drama Korea ataupun pemain sepak bola. dosen Aneks saya pernah berkata di salah satu pertemuan agar kami para pecinta artis Korea berhenti terlalu mengidolakan (baca: tergila-gila akan) mereka karena mereka itu sama sekali untouchable, dan menyarankan kami untuk lebih realistis dan mencari yang touchable. namun pertanyaan yang terlintas di otak saya: bagaimana kalau yang touchable itu ternyata unreachable? haha.. menyedihkan.
baiklah, inilah mereka para pria untouchable dan juga sayangnya unreachable yang sejak saya SD sampai sekarang MTA berhasil menimbulkan perilaku labil dan kadang tidak masuk akal (sebut saja jatuh cinta). mulai dari membeli tabloid berisikan artis Asia seperti AsianPlus atau AsianStar pada zaman SMP yang harganya mahal, sampai sekarang, mengunduh setiap serial yang dibintangi mereka demi bisa mencapai kondisi "reachable" tersebut, walau semuanya semu.
Song Seung Hun
para wanita, nonton sendiri kalau tidak percaya. saya bahkan menonton ulang serial ini saat kuliah (niat).
di Summer Scent yang terjadi malah sebaliknya. apa karena rambutnya dikeritingin dan sosok cool itu telah hilang, keadiktivan menjadi sedikit hilang. ntahlah, namanya juga saat itu remaja yang sedang mencari jati diri. mungkin saya harus menonton My Princess ASAP dan mengembalikan rasa yang sudah lama hilang. *mintadigampar*
Toro
Jay Chou
yang pasti sih suaranya bagus, tenor, dan permainan pianonya juga keren. kemudian lanjut hunting album November's Chopin dan bahkan bela-belain nyari VCD-nya biar bisa puas liat video clip-nya. Nocturne di November's Chopin lebih juara lagi saat itu, ya walaupun udah ketahuan dari klip-nya kalo itu lagu sedih. ga puas mendengar lagunya saja, saat itu saya bahkan membeli majalah/tabloid yang ada hubungannya dengan Jay Chou. bahkan kalender yang ada Jay Chou juga saya embat. haha. namun makin lama Jay Chou makin nyebelin karena musiknya semakin jauh dari ballad.
Hyun Bin
Lee Min Ho
engga tau deh. tapi ini kisah yang sedikit cheesy untuk diceritakan, bagaikan dua orang yang saling membenci dan pada akhirnya saling jatuh cinta. oke, Lee Min Ho tidak kenal aku dan juga tidak membenciku. alasannya adalah Boys Before Flowers yang tiba-tiba muncul sebagai versi Korea dari Hana Yori Dango yang sangat tidak saya sukai karena para pemerannya, terutama Lee Min Ho. anehnya, kebanyakan para pecinta drama Korea jadi addict gara-gara serial yang satu ini. individual differences, huh? dan saat saya sedang butuh drama Korea dan memilih City Hunter karena ada Lee Kwang Soo disana, saya malah nyasar dan jatuh cinta pada Lee Min Ho seakan Sang Cupid telah salah menembakkan panahnya. Uhlala~ so, saya pun labil dan bela-belain mengunduh Personal Taste dan kemudian BBF (yang ternyata tidak mampu diselesaikan karena membosankan). saya tidak peduli Lee Min Ho operasi plastik atau tidak, itu haknya karena profesinya sebagai entertainer dan demi menjaga eksistensinya di dunia entertainment Korea yang keras. memang sih ada perubahan pada bentuk wajahnya. tapi yang paling killer dari LMH adalah senyum lebarnya yang memamerkan giginya yang rapi. serta suaranya yang... khas dan beda. hihi... dan ternyata dia lebih pro dan killer lagi di Personal Taste, walaupun karakternya sebagai pria yang kaku dan kurang asertif. hemm.
itulah sekilas gambaran fangirling yang terjadi pada diri saya. namun, fangirling saat saya SMP-SMA tentu saja tidak berjalan lancar. hambatan utamanya berasal dari larangan menonton TV terlalu lama/sering dari orang tua. ya cara memuaskannya ternyata baru bisa tercapai bertahun-tahun berikutnya saat kuliah, dimana terjadi suatu nostalgila karena kembali ke masa lalu menemukan sosok pria-pria untouchable dan unreachable itu. hal lain yang menyenangkan adalah menemukan teman-teman sesama jenis yang bisa nyambung jika ngobrolin artis-artis Asia dan sebagai sumber bergiga-giga mood booster.
entahlah. tapi rasanya ada perbedaan antara mereka yang untouchable unreachable dengan mereka yang touchable unreachable. yang pertama cenderung cepat menghilang, yang kedua cenderung bertahan lama, like a bad habit.













